• Halaman

  • Blog Stats

    • 273 hits
  • SocialVibe


  • Flickr Photos

    Alpine Storm over Mont Blanc (Explored)

    Crescent Bay Sunrise

    Go West

    More Photos

DEMO

Pada suatu sore ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya, datanglah dua orang tamu kerumahnya. Seorang wanita tua penjual kahwa dan seorang pemuda bangsa Mesir.

Setelah mendengar pengaduan kedua tamunya, Abu Nawas menyuruh murid-muridnya menutup kitab sambil berseru: “Pulanglah kalian! Dan ajak teman-teman kalian datang padaku malam hari ini dengan membawa cangkul, penggali, kapak dan martil serta batu.”

Murid-murid Abu Nawas heran, tapi mereka sangat patuh pada gurunya, jadi mereka  tidak berani bertanya dan mereka juga yakin bahwa gurunya selalu benar.

Pada malam harinya mereka datang ke rumah Abu Nawas lengkap dengan peralatan yang diminta oleh Abu Nawas.

“Hai kalian semua! Pergilah malam ini ke rumah Tuan Kadi yang baru dan rusaklah rumah Tuan Kadi itu!”

“Merusak rumah Tuan Kadi?” Murid-muridnya keheranan

“Apa? Kalian jangan ragu! Laksanakan saja perintahku!” Seru Abu Nawas mencoba menghapus keraguan murid-muridnya. “Jika ada yang menghalangimu, jangan pedulikan! Rusakkanlah rumah Tuan Kadi yang baru itu! Jika ada yang bertanya, katakan aku yang menyuruhmu, dan jika ada yang melemparmu, pukul dan lemparilah dengan batu yang kamu bawa!”

Tanpa banyak bicara lagi murid-murid Abu Nawas pun pergi menuju rumah Tuan Kadi. Sambil merusak mereka juga berteriak-teriak layaknya kebanyakan demonstran di Indonesia. Tentu saja keadaan ini membuat orang-orang kampung merasa heran dengan kelakuan mereka.

Melihat banyak orang yang merusak rumahnya, Tuan Kadi segera keluar dan bertanya, “Siapa yang menyuruh kalian merusak rumahku?”

Murid-murid itu menjawab, “Guru kami, Tuan Abu Nawas yang menyuruh.”

Tuan Kadi pun marah-marah, tapi tidak berani melawan karena tidak ada orang yang berani membantunya. “Dasar Abu Nawas provokator, orang gila! Tunggu sampai besok pagi, aku akan melaporkannya pada Baginda.”

Dan esok harinya Tuan Kadi melaporkan kejadian semalam kepada Baginda. Abu Nawas pun dipanggil menghadap Baginda.

“Hai, Abu Nawas! Apa sebabnya kau merusak rumah Kadi itu?” Tanya Baginda.

Abu Nawas menjawab, “Wahai Tuanku, pada suatu malam hamba bermimpi bahwasanya Tuan Kadi menyuruh hamba merusak rumahnya karena rumah itu tidak cocok baginya. Ia menginginkan rumah yang lebih bagus lagi. Jadi karena mimpi itulah hamba merusak rumah Tuan Kadi.”

Baginda berkata, “Bolehkah hanya karena mimpi perintah dilakukan? Hukum dari negeri mana yang kau pakai itu?”

Dengan tenang Abu Nawas menjawab, “Hamba memakai hukum Tuan Kadi yang baru ini Tuanku.”

Mendengar perkataan Abu Nawas wajah Tuan Kadi menjadi pucat.

“Hai Kadi! bernarkah kau mempunyai hukum seperti itu?” Tanya Baginda.

Tuan Kadi terdiam tidak menjawab, wajahnya semakin pucat dan tubuhnya bergetar ketakutan.

“Abu Nawas jangan membuatku pusing! Jelaskan kenapa ada kejadian seperti ini?” Seru Baginda balik bertanya kepada Abu Nawas.

“Baiklah…..” Kata Abu Nawas dengan tenang. “Baginda… beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda Mesir datang ke negeri Baghdad ini untuk berdagang sambil membawa harta yang banyak sekali. Pada suatu malam ia bermimpi menikah dengan anak Tuan Kadi dengan mahar sekian banyak. Ini hanya mimpi Baginda. Tetapi Tuan Kadi yang mendengar kabar itu langsung mendatangi si pemuda Mesir dan meminta mahar anaknya. Tentu saja pemuda itu tak mau membayarnya. Tetapi Tuan Kadi memaksanya dan merampas seluruh harta pemuda itu. Dan akhirnya pemuda itu pun menjadi gelandangan dan ditolong oleh seorang wanita tua penjual kahwa.”

Alangkah terkejutnya Baginda mendengar cerita itu, tapi beliau masih belum percaya dan memerintahkan Abu Nawas untuk memanggil pemuda itu kehadapannya.

Setelah pemuda Mesir itu berada dihadapnnya, Baginda berkata, “Hai anak muda Mesir, ceritakanlah apa yang telah kamu alami sejak datang ke negeri ini!”

Pemuda itupun bercerita sebagaimana cerita Abu Nawas. Bahkan pemuda itupun membawa saksi yaitu seorang orang tua pemilik tempat penginapan dimana pemuda itu menginap.

“Kurang ajar! Ternyata aku telah mengangkat seorang Kadi yang tidak bermoral.” Baginda sangat murka. Dan Kadi itu dipecat, seluruh hartanya dirampas dan diberikan kepada si pemuda Mesir itu.

Setelah urusannya selesai, Abu Nawas dan pemuda itu pulang ke rumahnya. Setalah sampai di rumah pemuda itu memberikan sebagian hartanya kepada Abu Nawas sebagai balas jasa atas kebaikan Abu Nawas yang telah menolongnya.

Abu Nawas berkata, “Jangan pernah memberikan sesuatu kepadaku, karena aku tidak akan menerimanya sedikitpun.”

Pemuda tersebut merasa kagum terhadap Abu Nawas. Dan setelah ia kembali ke Mesir diceritakannya tentang kehebatan Abu Nawas itu kepada penduduk Mesir sehingga nama Abu Nawas menjadi terkenal di negeri Mesir.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.